09/09/2026
MUSIC EVENT

UVJF 2026 Berakhir: Jazz, Regenerasi, dan Semangat yang Tak Padam

MUSIKBALI.COM – Ubud Village Jazz Festival (UVJF) 2026 resmi berakhir Sabtu (8/8) malam di Sthala Ubud Bali, A Tribute Portfolio Hotel. Dua hari perhelatan edisi ke-13 itu ditutup dengan penampilan Salamander Big Band, setelah sebelumnya festival menghadirkan puluhan musisi dari dalam dan luar negeri, tiga panggung, serta untuk pertama kalinya pameran seni pop-up.

Antusiasme penonton justru terlihat semakin tumbuh. Panitia mencatat jumlah pengunjung pada malam penutupan lebih tinggi dibandingkan malam pembukaan. Sepanjang dua hari, penonton berpindah dari Giri Stage, Subak Stage yang berada di tepi sungai dengan latar pepohonan beringin dan bebatuan, hingga Community Stage yang menghadirkan Westside Vinyl DeeJays dengan sajian DJ set vinyl bernuansa jazz.

Namun, UVJF 2026 bukan sekadar parade nama dan penampilan. Salah satu benang merah yang terasa kuat adalah regenerasi jazz. JZ.KA Trio yang membuka Subak Stage pada malam penutupan menjadi salah satu wajah generasi muda jazz Bali. Putu Angelika (piano, vokal), Jesse Adiputra (drum), dan Samuel Pardosi (kontra bass) tampil dengan energi muda, tetapi tetap menunjukkan kematangan musikal.

Di ujung spektrum yang lain, Dodot Trio menghadirkan pianis Dodot Atmojo, yang telah mengisi skena jazz Bali selama lebih dari empat dekade. Bersama Helmy Agustrian dan Wisnu Priambodo, Dodot membawakan karya-karya dari album The Story of White Piano. Di panggung yang sama, generasi muda dan senior bertemu dalam bahasa yang sama: jazz.

Jadi Peperzak Quartet

Karakter internasional UVJF juga terasa kuat. Watchdog dari Prancis, Pong Nakornchai Ensemble yang mempertemukan musisi Thailand dan Indonesia, serta Jadi Peperzak Quartet yang beranggotakan musisi dari Belanda, Indonesia, dan Nepal, menjadi bagian dari perjumpaan lintas negara tersebut. H Zettrio dari Jepang kemudian menjadi salah satu sorotan malam penutupan, sebelum Salamander Big Band mengakhiri festival menjelang tengah malam.

Baca Juga:  SoundrenAline 2018 Lebih Ekspresif, Lebih Kreatif

Bagi co-founder UVJF Anom Darsana, kekuatan festival ini terletak pada identitasnya yang tetap mempertahankan musik jazz, sekaligus memberi ruang bagi generasi muda dan kolaborasi musisi lokal dengan internasional. “Semoga festival ini tetap bisa diselenggarakan setiap tahun. Walaupun banyak kendala, semangat kami tidak pernah padam untuk memperjuangkan festival yang murni jazz,” harapnya.

Anom juga mengaku puas dengan kualitas penyelenggaraan tahun ini, khususnya tata suara yang menurutnya menjadi salah satu aspek terpenting dalam sebuah festival musik. “Kualitas tata suara selalu menjadi hal yang sangat penting karena ini festival musik, dan tahun ini sangat bagus,” katanya.

Selain kualitas tata suara, Anom mengapresiasi semangat komunitas yang memberikan dukungan luar biasa terhadap penyelenggaraan UVJF 2026. Ia juga menyebut dukungan Sthala yang, menurutnya, tidak berkurang sejak festival pertama kali digelar di venue tersebut.

Panitia bersama penggagas Ubud Village Jazz Festival saat pembukaan Sthala UVJF 2026, Jumat (7/8)

Kepuasan serupa dirasakan co-founder UVJF lainnya, Yuri Mahatma. Menurutnya, selama 13 tahun UVJF terus menjadi platform bagi kolaborasi musisi nasional dan internasional sekaligus ruang bagi generasi penerus. Ia juga mengapresiasi dukungan Sthala yang sejak 2023 menjadi title sponsor. Menurut Yuri, kesamaan visi, lanskap, infrastruktur, dan akses Sthala bersinergi dengan karakter festival.

“Yang paling membuat saya puas adalah melihat tim kami yang solid, tetap menjaga idealisme dan passion untuk bekerja menghasilkan yang terbaik, walau dihadapi dengan kenyataan pendanaan yang sangat minim,” katanya.

Dari kesan penonton, panitia, pun pengisi acara, dapat dikatakan mungkin di situlah kekuatan UVJF: ketika banyak hal bisa berubah, jazz-nya tetap jazz. Idealismenya tetap dijaga, juga semangat untuk membuat festival ini terus hidup tak pernah padam. (231)

Baca Juga:  Broken Brothers, Terbaik di AcoustiCantik #1