09/09/2026
Event

Ubud Village Jazz Festival, Konsisten Menjaga Jazz Tetap Jazz

Simone Pratttico Java Collective

MUSIKBALI.COM – Dalam dua dekade terakhir, makin banyak pentas, bahkan festival musik jazz bermunculan. Tak hanya di Ibu Kota, Jakarta, tetapi juga hingga ke berbagai daerah. Dari sekian banyak gelaran tahunan tersebut, muncul satu festival yang berupaya konsisten untuk murni memanggungkan musik jazz sesuai namanya. Ya, Ubud Village Jazz Festival (UVJF).

Sejak pertama kali digelar, agenda rutin ini berkomitmen untuk menampilkan musik jazz. Bukan sekadar gagah-gagahan, tetapi juga sebagai upaya mengedukasi publik untuk mengenal dan memahami apa itu jazz sesungguhnya.

Memasuki gelaran tahun ini, UVJF yang tetap menggandeng Sthala,  A Tribute Portfolio Hotel, Ubud, menegaskan kembali komitmen tersebut. Bahkan, Heru Djatmiko dari pihak Sthala mewakili panitia menyatakan, pertunjukan yang berlangsung selama dua hari, 7­­—8 Agustus hanya memainkan jazz; bukan pop, rock, juga bukan dangdut. Ia pun menyatakan Sthala UVJF 2026 tidak dibangun atas dasar komersial.

“Festival ini tidak diciptakan untuk mengejar uang, melainkan murni karena kecintaan pada jazz,” ujarnya.

Terdengar idealis, tetapi justru inilah yang pada akhirnya membedakan UVJF dengan gelaran lainnya. Penikmat musik, khususnya jazz, pun makin memahami hal itu. Maka, ketika gelaran jazz lain masih berdamai dengan genre lain demi alasan komersial dan untuk mengumpulkan massa, UVJF tetap setia hanya pada jazz.

Salamander Big Band

Hasilnya, meskipun penonton tidak tumpah ruah seperti konser musik di lapangan, area acara di lingkungan Sthala tetap padat pengunjung. Mereka pun tersebar di beberapa titik, seperti panggung utama Giri Stage, Subak Stage, dan Community Stage.

Maka wajar apabila saat membuka Sthala UVJF 2026, Jumat (7/8) petang, pucuk pimpinan Sthala termasuk GM Lasta Arimbawa didampingi tiga penggagas UVJF, yakni Anom Darsana, Yuri Mahatma, dan Astri Sulaiman, tampak berbangga. Acara yang separuh penontonnya merupakan warga asing, terutama ekspatriat di Bali, ini juga didatangi penonton dari luar kota seperti Bandung, Solo, dan daerah lainnya.

Baca Juga:  Akhirnya Postmen Konser Khusus "Trilogi Nusantara"

Salamander Big Band menjadi menu utama selepas opening ceremony. Grup yang didukung sekitar 20-an musisi dan penyanyi ini mampu membuat penonton bertahan selama 50 menit pertunjukan dan berkali-kali mendapat aplaus.

Salah satu yang menarik adalah munculnya Nenden Shintawati, penyanyi tunanetra yang mengundang decak kagum penonton. Nenden tak lain adalah penyanyi rekaman yang sudah mulai berkarier sejak anak-anak dan hingga kini masih aktif menyanyi dalam berbagai genre, termasuk jazz tentunya.

Salamander Big Band

Tentu saja, Sthala UVJF 2026 tak hanya mengedepankan Salamander Big Band. Ada sejumlah penampil lain pada hari pertama yang berbagi panggung di Subak Stage dan Giri Stage. Mereka di antaranya Rason Trio dan Imelda Rosalin Quintet yang membuka hari, hingga LaDju, Simone Prattico Java Collective, Dattie Do Duo, Straight & Stretch, dan Michael Ananda Trio yang bergantian mengisi Giri Stage dan Subak Stage hingga tengah malam.

Sebagai bagian resmi acara, Tahun ini UVJF untuk pertama kalinya menghadirkan pameran seni rupa/ Pameran yang dikurasi secara kolektif oleh Kala Patha ini diberi judul “Second Life: An Exhibition of Found Materials & Upcycled Art”. Karya dari delapan seniman kontemporer: Ayu Murniati, Defina Sumardji, Ediwe, I Komang Adiartha, Modjo, Nym Handi Ya, Skinner Ohrami, dan Sofiya Shukhova.  Mereka mengolah barang bekas, material daur ulang, dan sisa industri menjadi karya baru yang dihadirkan mengisi sekaligus menghias area acara. (231)