Home Nasional “Idep” dan Proses Panjang Nyanyian Dharma
Nasional

“Idep” dan Proses Panjang Nyanyian Dharma

SETELAH hampir dua dekade tidak merilis rekaman karya baru, kelompok Nyanyian Dharma akhirnya kembali dengan mini album (EP) bertajuk Idep. Menandai peluncuran karya ini, satu pertunjukan kolaboratif yang digelar di Ruang Taksu, Gedung Dharma Negara Alaya (DNA), Denpasar, 19 April 2026 lalu. Rekaman ini juga menjadi penanda perjalanan Panjang satu komunitas yang berkarya atas dasar “ngayah”.

Nyanyian Dharma sendiri merupakan proyek musikal yang digagas oleh Dewa Budjana sejak 1997, berangkat dari keresahan sederhana tentang ruang ekspresi musik spiritual di Bali. Sempat didukung sederet musisi dan penyanyi ternama di kancah nasional maupun music Bali, saat ini formasi Nyanyian Dharma adalah Dewa Budjana (gitar), Trie Utami (vokal), IB Wicaksana, Gde Kurniawan, dan Agung Ocha (vokal), Rico Mantrawan (keyboard), Doddy Sambodo (bass), serta Deny Surya (drum).

Budjana menegaskan, konsistensi mereka dalam menjaga Nyanyian Dharma bukan didorong oleh orientasi keuntungan, melainkan panggilan hati. Menurutnya, para pelaku di dalamnya memiliki komitmen untuk berkarya dan ngayah.

“Kalau berbicara finansial, kami tidak menutup kemungkinan untuk itu. Seperti adanya dukungan dari pihak luar, seperti sponsor untuk mendukung pertunjukan maupun proses rekaman di masa mendatang,” ujar Dewa Budjana.

Menurut Trie Utami, sebetulnya sudah sejak lama ada beberapa garapan baru yang sempat direkam. Namun keputusan untuk merekam dan segera merilis beberapa di antaranya, baru muncul saat akhir tahun lalu berkumpul dan berproses di Ceto, Jawa Tengah. Maka dalam waktu tiga bulan, proses rekaman dikerjakan, hingga Idep terselesaikan dengan memuat lima lagu, yakni Kidung Nusantara, Tumpek Wariga, Ibu Pertiwi Lara, Catur Kanda, dan Mulat Sarira.

Judul album Idep dipilih menimbang makna kata ini, pikiran atau kesadaran, sebagai benang merah karya yang dibawakan. Kesadaran tersebut tidak hanya hadir dalam musik, tetapi juga dalam interaksi dengan seni visual dan pengalaman kolektif antara penampil dan penonton.

Nyanyian Dharma

 

Bagi Trie Utami, keterlibatannya selama hampir 20 tahun di Nyanyian Dharma menghadirkan pengalaman yang sangat personal. Ia menyebut proyek ini sebagai ruang “pulang” yang mempertemukannya kembali dengan sisi batin yang lebih dalam. Ia juga tidak menampik adanya pengalaman spiritual yang dirasakan selama perjalanan bersama Nyanyian Dharma, meski enggan menguraikannya secara rinci. Menurutnya, pengalaman-pengalaman tersebut justru menjadi penguat bagi mereka untuk terus menjaga denyut karya ini.

Salah satu lagu yang menarik perhatian adalah Ibu Pertiwi Lara, karya Trie Utami, yang mengangkat isu kerusakan alam. Liriknya menggambarkan kondisi lingkungan yang kian tergerus, mulai dari hutan yang hilang hingga laut yang rusak.

Pengenalan lagu-lagu dari mini album Idep dikemas dalam satu pertunjukan khusus. Bukan hanya karena hadirnya lima komposisi baru, tetapi juga karena Nyanyian Dharma tetap mempertahankan semangat kolaboratif yang menjadi ciri khasnya sejak awal. Dalam pementasan tersebut, musik tidak berdiri sendiri, melainkan berinteraksi dengan seni visual melalui format live painting. Dua kanvas besar di sisi kiri dan kanan panggung menjadi media bagi perupa Apel Hendrawan dan Mangku Bonuz untuk merespons alunan music dan makna lirik yang tersampaikan sepanjangpertunjukan.

Selain itu, nama Agung Bagus Mantra juga disebut sebagai bagian penting dalam perjalanan Nyanyian Dharma, meski tidak tampil di panggung. Sejak 2006 Ia turut terlibat sebagai sosok yang turut mendorong keberlangsungan proyek ini dalam menemukan ruang ekspresi yang lebih kontemplatif. (231)

Exit mobile version