09/09/2026
News

“Galungan”, Ketulusan yang Mengalun dari Dunia Anak

MUSIKBALI.COM – Di tengah minimnya lagu anak-anak yang lahir dari pengalaman dan sudut pandang anak itu sendiri, karya terbaru Wikan Satya berjudul Galungan menawarkan sesuatu yang menyegarkan. Musisi cilik yang masih duduk di bangku kelas VI SD ini menghadirkan lagu bertema Hari Suci Galungan dengan pendekatan yang sederhana, jujur, dan dekat dengan keseharian.

Nama Wikan Satya mungkin tidak lagi asing bagi sebagian penikmat musik Bali. Sebelumnya, ia sempat mencuri perhatian melalui Anacaraka, sebuah lagu anak-anak yang mengangkat Bahasa dan Aksara Bali dengan pendekatan yang ramah anak. Jika Anacaraka menjadi ruang eksplorasinya terhadap identitas budaya Bali, maka Galungan memperlihatkan perkembangan tema yang mulai dijelajahinya. Ia tetap berpijak pada nilai-nilai budaya Bali, namun menyampaikannya melalui perspektif yang lebih luas dan dekat dengan pengalaman sehari-hari masyarakat.

Salah satu hal yang menarik dari Galungan adalah keberaniannya mengambil jalur berbeda. Jika banyak lagu bertema Galungan dan Kuningan menggunakan Bahasa Bali, Wikan memilih merangkai lirik ke dalam Bahasa Indonesia sebagai. Pilihan ini membuat pesan lagu lebih mudah diterima oleh pendengar yang lebih luas, tanpa kehilangan nuansa spiritual dan budaya yang menjadi ruh perayaannya.

Awal mula lagu “Galungan” berangkat dari suasana rumah yang akrab dengan musik. Papa Wikan, yang gemar bersenandung dan menulis lirik lagu, acap melahirkan berbagai gagasan dalam rutinitasnya. Dari gagasan-gagasan sederhana itulah benih lagu “Galungan” tumbuh dan perlahan menemukan bentuknya. Kesederhanaan lirik yang dirangkai oleh papa Wikan, menjadi kekuatan utama lagu ini. Kalimat-kalimat yang digunakan terasa ringan dan komunikatif, mencerminkan cara pandang seorang anak dalam memaknai sukacita menyambut Hari Raya Galungan. Tidak ada kesan menggurui, apalagi mencoba terdengar dewasa. Yang muncul adalah kepolosan yang tulus, sesuatu yang semakin jarang ditemukan dalam musik anak-anak masa kini.

Baca Juga:  Begini Jadinya, Duet Pertama Anggi-Tunik Rodja

Menariknya lagi, Wikan tidak hanya berperan sebagai penyanyi. Ia juga terlibat dalam proses aransemen lagu. Sentuhan keyboard yang ia susun menghadirkan warna lembut melalui melodi suling yang menjadi identitas utama lagu. Aransemen tersebut kemudian disempurnakan dan diperkaya dengan permainan gitar oleh Mr. Yuda, guru musi Wikan, sehingga menghasilkan komposisi yang nyaman didengar dan sesuai dengan karakter lagu.

Secara musikal, Galungan memang tidak menawarkan eksplorasi yang kompleks. Namun justru di situlah letak pesonanya. Lagu ini tidak berusaha menjadi megah atau spektakuler. Ia hadir apa adanya, dengan fokus pada pesan dan suasana yang ingin dibangun. Pendengar diajak menikmati perayaan Galungan dari perspektif seorang anak yang memandang hari raya sebagai momen sukacita, kebersamaan, dan kemenangan dharma melawan adharma.

Lebih dari sekadar lagu perayaan, Galungan menunjukkan bahwa kreativitas anak-anak dapat tumbuh ketika mendapat ruang dan dukungan yang tepat. Kolaborasi antara keluarga, guru, dan lingkungan sekitar terasa hidup dalam karya ini. Hasilnya bukan hanya sebuah lagu, melainkan rekam jejak perjalanan kreatif seorang anak yang sedang belajar mengenal dunia musik.

Sebagai karya musisi cilik, Galungan layak diapresiasi bukan karena usia penciptanya semata, melainkan karena keberhasilannya menghadirkan sesuatu yang jujur dan otentik. Di tengah industri musik yang sering kali mengejar tren dan pasar, lagu ini mengingatkan bahwa kesederhanaan masih memiliki tempat yang istimewa di hati pendengar.

Penulis: Dede Putra Wiguna