MUSIKBALI.COM – Tiap orang memiliki cerita atau pengalaman hidup. Di antaranua mungkin ada cerita yang tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya disimpan, dipendam, hingga suatu saat menemukan jalannya sendiri untuk keluar, mungkin tidak dengan pengungkapan kata-kata biasa, tetapi melalui nada dan lagu.
Kiranya itulah yang dapat ditangkap dari rilis lagu “Beban Rasa” dari De Endix, yang resmi diperkenalkan ke publik 25 Maret lalu. Menurut De Endix, lagu ini sejatinya bukan karya yang baru lahir. Ia sudah ditulis sejak 2018, namun baru menemukan momentumnya untuk dirilis sekarang. Ada jeda waktu yang cukup panjang, menunggu keberanian penciptanya untuk benar-benar dipublikasikan.
“Ya ini berkat dorongan dari teman-teman yang kerap memberi semangat agar karya ini tidak hanya disimpan, tetapi diperkenalkan kepada publik,” jelasnya.
“Beban Rasa” bercerita tentang sesuatu yang dekat dengan banyak orang, adanya perasaan yang tumbuh diam-diam. Tentang seorang laki-laki yang memendam rasa terhadap teman perempuan yang telah memiliki pasangan. Perasaan itu tidak muncul tiba-tiba, melainkan tumbuh perlahan melalui kebersamaan—hal yang sering kali justru membuatnya semakin sulit diabaikan.
Di situlah konflik batin mulai terasa. Di satu sisi, ada keinginan untuk jujur terhadap perasaan sendiri. Di sisi lain, ada batas yang tidak bisa dilanggar—status hubungan sang perempuan yang harus tetap dihormati. Perasaan yang tidak tersampaikan akhirnya berubah menjadi beban, sesuatu yang terus ada, tetapi tidak pernah benar-benar selesai.
Lagu ini mencoba menangkap momen itu: ketika seseorang akhirnya memilih untuk jujur, bukan untuk memiliki, tetapi untuk melepaskan. Sebuah kejujuran yang tidak selalu membawa kebahagiaan, tetapi setidaknya memberikan kelegaan.
Menurut De Endix, proses kreatif di balik lagu ini juga tidak seketika. Semua ia lakukan perlahan di tengah kesibukannya sebagai Pengawas Sekolah di Disdikpora Kabupaten Badung, Pria bernama asli I Gede Endika Parimbawa ini tetap menyisakan ruang untuk berkarya.
Untuk menggarap karya ini ia dibantu oleh Made Urip sebagai penata musik, rekan lamanya di band dulu, Wacika. Untuk visualisasi lagu ini juga digarap dengan pendekatan yang cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Video klipnya mengambil latar sekolah, sebuah pilihan yang terasa relevan dengan cerita yang diangkat. Proses pengambilan gambar melibatkan rekan-rekan guru dari sekolah dampingan sebagai model, menciptakan suasana yang lebih natural dan tidak dibuat-buat.
“Astungkara rahayu, semoga bisa berkarya kembali ke depannya,” ujarnya
Sebetulnya De Endix sudah sempat berkarya sendiri di tahun 2009 juga diunggah di kanal Youtube. Hanya saja karya itu tidak digarap total secara professional, hanya mengisi waktu dan menyalurkan kreativitas. Baru di “Beban Rasa” ini ia garap secara penuh layaknya rekaman lagu pop Bali lain. (231)

